Kamis, 30 Mei 2013

Mengapa Internet Membuat Anda Kecanduan?



“Cuma sebentar kok melihat Facebook.”

Itulah yang sering dikatakan orang, sebelum akhirnya menghabiskan berjam-jam menonton video kucing, mengomentari peluncuran produk makanan di Instagram, dan berselancar guna mengetahui apa yang terjadi pada Dolph Lundgren.

Jika Anda adalah salah satu dari orang itu, jangan bersedih. Itu adalah tingkah laku yang alami, hal yang membuat internet terstruktur, kata para ilmuwan.

Orang-orang cenderung mencari cara untuk membenarkan tindakan mereka berselancar di dunia maya dengan cara kompulsif yang tidak diduga. Keberadaan internet dan kurangnya batasan membuat orang-orang sering lupa waktu, sehingga sukar berpaling dari internet.

“Internet tidak menyebabkan kecanduan sebagimana obat-obatan,” kata Tom Stafford, ilmuwan kognitif di University of Sheffield di Inggris. “Tapi internet itu kompulsif, menarik, dan menggangu.”

Anda mendapat email
Manusia adalah mahluk sosial. Sebagai konsekuensinya, orang-orang akan menikmati berbagai informasi sosial yang tersedia melalui email dan situs-situs internet.

Email dan media sosial memiliki struktur yang sama seperti mesin slot kasino yang kebanyakan berisi “sampah”, namun Anda terlalu sering mendapat kejutan dalam dunia maya, seperti gosip menyenangkan atau email yang menyedihkan, kata Stafford. Pembenaran itu malah akan menguatkan keinginan untuk berselanaar di dunia maya.

Pembenaran yang tidak terduga terhadap internet memiliki struktur yang sama seperti cara Ivan Pavlov melatih anjing, yang terjadi di abad ke-19, ketika para anjing mengeluarkan air liur begitu mendengar bunyi lonceng yang diidentikkan dengan memberi makan.

Selama beberapa waktu orang-orang menghubungkan isyarat (seperti pesan instan atau halaman muka Facebook) dengan rasa senang yang memicu kebahagiaan di otak. Orang-orang mulai terbiasa mengunjungi situs jejaring sosial tersebut terus-menerus.

Hadapi atau hindari
Membaca email atau memalingkan dari dari layar bisa menjadi respons “hadapi atau hindari,” kata Linda Stone, peneliti yang mempelajari dampak psikologi penggunaan internet.

Stone menunjukkan bahwa sekitar 80 persen orang menahan napas selama beberapa saat atau tidak mengambil napas panjang saat mereka membaca email atau menatap layar komputer, kondisi yang ia sebut sebagai “email apnea.”

Situs internet terkadang memiliki konten penting yang membutuhkan aksi atau respons, contohnya tugas dari atasan atau foto pertunangan dari sahabat dekat Anda, jadi orang-orang mengantisipasinya dengan menahan napas mereka dan menatap layar komputer.

Namun, menahan napas bisa memberikan pengaruh secara psikologis yang membuat tubuh mengahdapi ancaman potensial atau “kejutan yang tidak diduga.” Respons fisik secara terus-menurus tersebut dapat memberikan dampak buruk terhadap kesehatan, kata Stone.  

Tidak ada batas
Alasan lain mengapa internet menyebabkan kecanduan adalah kurangnya batasan antara tugas-tugas, kata Stafford.

Seseorang mungkin menjelajah internet untuk “mencari sesuatu, kemudian secara tidak disengaja mengunjungi Wikipedia, dan mencoba mencari tahu apa saja yang pernah terjadi terhadap Depeche Mode,” kata Stafford merujuk pada band itu.

Sejumlah penelitian menyebutkan bahwa keinginan sama seperti kekuatan fisik, keinginan bisa menjadi pendorong kuat tapi juga bisa menjadi lemah.

Karena internet selalu “aktif”, fokus terhadap pekerjaan membutuhkan keinginan kuat seperti itu, yang bisa menguras kendali diri seseorang.

“Anda tidak akan pernah bisa menghindari godaan,” kata Stafford.

Tetapkan batasan
Bagi mereka yang ingin menghilangkan ketergantungan terhadap dunia maya, ada beberapa cara sederhana untuk bisa mengatasinya.

Alat pemblokir situs yang membatasi waktu berselancar di dunia maya bisa membantu orang-orang mengatasi masalah pengaturan waktu mereka. Cara yang lain adalah menentukan rencana terlebih dahulu, dengan memantapkan diri untuk bekerja selama 20 menit, atau sampai tugas Anda selesai dikerjakan, lalu Anda bisa berselencar di dunia maya selama lima menit, kata Stafford.

“Teknologi adalah hal yang terstruktur,” kata Stafford kepada LiveScience. “Tapi sebenarnya, secara psikologi, kita tidak sekadar memerlukan hal yang terstruktur, dan hal itu masih dalam perdebatan.”

Oleh : Tia Ghose, Staf Penulis LiveScience

Tidak ada komentar:

Posting Komentar